Cinta Rasul

Cinta Rasul

Rabu, 26 September 2012

Bandara Cairo Terlihat Begitu Indah


Di bandara international Cairo

Ini peristiwa pagi menjelang siangku. Sekitar pukul 9.30 WK, aku  mengantar senior ke bandara internasional Cairo, karena hari ini mereka kembali ke tanah air setelah menyelesaikan studinya di Al-Azhar. “Hmm… Aku kapan ya…???? Masak kalah sama senior, ya jelas aja kalah, namanya juga senior, wajar donk dia yang duluan pulang, yang sabar insya Allah akan tiba saatanya. Ini hanya masalah waktu, andai saja aku lebih dulu lahir dari seniorku, mungkin aku yang diantar mereka.hehe….Insya Allah kalau tidak ada halangan 2014 aku kembali menghirup tanah air ku Indonesia.

Hari ini aku mendapat  pelajaran berharga untuk membangkitkan kembali semangat yang mulai pudar. Disadari atau tidak, waktu akan terus berlalu tanpa pernah perduli akan nasib kita saat ini. Ia seolah berlari bahkan melompat lebih kencang dari kita, atau memang kita yang sedikit terlenan dengan nyanyian dunia.  Empat tahun bukanlah waktu yang lama untuk menyelesaikan studi di sini (Al-Azhar), tapi kalau saja empat tahun itu tidak dimanfaatkan dengan baik maka bisa berakibat fatal otomatis akan termakan usia dan nambah jatah waktu lebih lama lagi untuk tinggal di sini (Cairo). Jangan sampai..

Sungguh aku tidak mau hal itu terjadi pada diriku, rasanya sudah cukup lama merantau jauh dari keluarga tercinta dan aku ingin segera bisa berkumpul kembali bersama mereka seperti dulu lagi. kurang lebih 1 bulan lagi tepatnya bulan November umurku genap 22 tahun, hampir dari separuh umurku itu aku habiskan di perantauan. 12 tahun aku habiskan di rumah (SD), kemudian 10 tahun aku habiskan di perantauan.

Nah dari 10 tahun itu, 6 tahun aku habiskan untuk  mondok di pesantren Darel hikmah Pekanbaru yang berjarak kurang lebih 4-5 jam dari rumahku, pulang pun palingan pas libur-libur panjang aja, kemudian kurang lebih 5 bulan aku di jakarta, (itu dulu waktu aku kuliyah di sana) dan sisanya aku habiskan di Mesir  sampai detik ini.

Dulu ibuku pernah bilang “Novri ko godang dek urang, ndak dek awak ” (Novri ni besar karena orang lain, bukan karena ortu) ya maksudnya di perantauan, gitulah kira-kira.  Aku sendiri sempat tertawa sih,  mendengar perkataan ibuku yang seperti itu, tapi aku bilang ke beliau “gak apa-apa lah ma, jadi kan gak terlalu merepotkan mama” hehe. Ini semua aku lakukan karena aku ingin mandiri dan maju. Aku tidak mau tinggal di kampung,  terus berfikir seperti kebayakan orang-orang “kampung” (awam) yang tidak mau perduli dengan kemajuan alias jumud atau primitif.

Kok jadi cerita masa lalu sih,..hehe, Opzs ma’lesy (maaf),  kita kembali ke judul. Mengantar kepulangan kakanda Syafii adrad dan Rahmat fadhli ke tanah air tadi, seperti mengantongi semangat baru lagi. Ini sebagai pembelajaran bagiku, bahwa aku tidak boleh berlama-lama berada di negeri ini, sebisa mungkin tepat waktu, 4 tahun selesai dengan gelar Lc, (Mohon do’anya ya teman-teman).

Bandara cairo terlihat begitu indah bagi mereka yang pulang dengan ijzah Lc nya (S1). Gambaran  itulah yang terpancar dari raut wajah mereka. Senang bercampur sedih (Katanya sih gitu) hehe…Senang bisa kembali ke tanah air dengan gelar sarjana (Lc), dan sedih meninggalkan Negeri musa ini yang telah memberikan banyak ilmu dan pengalaman.  Beribu cerita dan pengalaman akan menjadi kenangan yang tak kan pernah terlupakan ketika kembali ke tanah air nanti, bahkan ada juga yang mengatakan itu adalah oleh-oleh yang paling ringan dan berharga untuk kerabat dan hadai taulan. Hehe (bisa aja)

Sekarang adalah saatnya bangkit dan membuktikan mimpi itu menjadi kenyataan. Aku akan melihat bandara kairo tampak begitu indah pada hari itu, pada hari kepulanganku nanti.  Hari ini aku yang mengantar seniorku, insya Allah 2014 aku yang akan diantar oleh junior dan sahabat-sahabatku, Amin. Apa yang sedang aku jalani sekarang akan selalu aku syukuri, dan apa yang sedang aku hadapi akan aku lakukan dengan spenuh hati, karena hidup memang untuk dinikmati dan disyukuri. Tidak ada yang lebih indah bagiku kecuali bisa menghadiahkan gelar Lc untuk kedua orangtuaku, keluargaku, bangsa dan agamaku. Uhibbukum giddan,,,giddan...

Semangat……!!!!!!!!!!!


Novrinaldi. S
Istana Riau, 26 September 2012
Ashar menjelang Magrib

Selasa, 25 September 2012

Jangan Ditunda-tunda..!!


Jangan tunda-tunda, terlambat sedikit saja masuk neraka selamanya.

Dapat cerita dari seorang ustadz.

Seorang imigran Arab yang menetap di Belanda menjalani profesi di samping pebisnis, ia juga sebagai seorang da’i. Suatu kali di puncak musim dingin bertepatan hari Jum’at, badai salju melanda daerah kediamannya. Biasanya setelah menyampaikan khutbah Jum’at, beliau bersama anaknya keliling ke rumah-rumah penduduk yang berada di sekitar mesjid tempat beliau shalat jum’at. Beliau menyampaikan pesan singkat tentang Islam, baik secara lisan maupun tulisan.

karena pada hari itu salju turun dengan derasnya, tentu saja dingin mencekam luar biasa. Oleh karena itu beliau memutuskan untuk tidak melakukan kegiatan seperti biasanya. Namun anaknya yang masih muda belia bersikukuh dengan semangat membara harus tetap keluar berdakwah. Ia mengatakan kepada ayahnya bahwa manusia setiap detik menuju neraka kalau kita tidak cepat mengingatkan dan memperkenalkan Islam kepada mereka. Tapi ayahnya tetap tidak mau.

Akhirnya, dengan kegigihan dan semangat seorang anak muda ia pergi sendirian menyebarkan buletin tentang Islam ke rumah-rumah penduduk. Tidak peduli dengan salju yang menerjang tubuhnya.

Beberapa hari setelah itu, pintu rumahnya diketuk seorang nenek tua, berumur 70-an tahun. Nenek itu menyatakan ingin masuk Islam. Allahu Akbar.

Ayah anak muda itu bertanya kepada si nenek, bagaimana anda mengenal Islam dan tertarik memeluknya, serta dari mana anda tahu kediaman kami ini?

Si nenek mengisahkan tentang dirinya:

Saya dulu hidup bahagia dengan suami saya. Kami tidak dikarunia anak, karena memang kami tidak ingin punya anak. Tapi beberapa hari yang lalu kebahagiaan kami sirna. Suami saya satu-satunya manusia yang mendampingi hidup saya meninggal dunia. Karena putus asa dengan kehidupan ini, akhirnya saya memutuskan ingin menyusulnya dengan cara bunuh diri.

Di saat saya lagi sibuk memasang tali untuk gantung diri, tiba-tiba pintu rumah saya diketuk orang dari luar.Saya jadi ragu, apakah melanjutkan bunuh diri atau menemui orang yang mengetuk pintu itu. Setelah bimbang beberapa saat, saya memutuskan untuk menemui orang itu dulu baru nanti melanjutkan bunuh diri. Dalam pikiran saya, barangkali ada pesan penting untuk terakhir kalinya yang akan ia sampaikan sebelum saya mati.

Ternyata ketika saya sampai di depan pintu orang yang mengetuk tadi sudah pergi. Barangkali ia bosan karena saya kelamaan membukakan pintu. Tapi ternyata sebelum pergi ia menyelipkan secarik kertas di bawah pintu. Dengan penuh tanda tanya saya melihat dan membaca isi kertas itu. Kata perkata dan kalimat perkalimat saya baca dengan teliti. Isinya sangat menyentuh hati, sehingga saya tertarik dengan agama dan ajaran yang disebutkan dalam kertas itu. Saya berharap, kesedihan saya bisa terobati dan saya tidak jadi bunuh diri. Untung di bawah tulisan itu ada alamat penyampai pesan, sehingga saya mudah menemukannya. Saya sekarang ingin berikrar dan menganut agama ini.

Allahu akbar, satu orang lagi selamat dari api neraka.

Mendengar penuturan nenek tua itu, ayah pemuda tadi jadi menggigil pucat dan terkesima. Coba kalau anaknya ikutan malas untuk tidak keluar menyampaikan dakwah Islam di waktu hujan salju itu, tentu nenek tua ini sudah terjun bebas ke neraka untuk selamanya. Semenjak itu mereka semakin semangat mendakwahkan Islam bagaimanapun kondisi alam. Dan nenek tua itu juga bisa menikmati hari tuanya di bawah asuhan komunitas muslim di sana. Selamatlah ia dunia dan akhirat, hidupnya berakhir dengan happy ending alias husnul khatimah. Alhamdulillahirabbil ‘alamin.


Oleh: Ust. Zulfi Akmal, Lc. MA.

Minggu, 23 September 2012

Dekat Dengan Sejarah

Ziarah ke Masjid Bersejarah Kairo

Lagi nunggu Bis, lama banget,..hehe
Yang dibelakang aku tu adalah Benteng Shalahudin Al-Ayubi

Di depan pintu masuk atas masjid Sultan Hasan


Sebelum masuk gerbang masjid Sultan Hasan
Bangunan kuno yg masih terlihat kokoh, Subhanallah


Indahnya......keren awi-awi lah pokoknya...hehe


Memandangi indahnya ciptaan Tuhan...hehe
Santay debentar di depan Masjid
Di Masjid Thalun Kairo
Di Atas masjdi Tholun, keren kan..??? heheh

 

Sabtu, 22 September 2012

Jadilah Seperti Mutiara yang Berharga

Kitab Fikih Mughnil Muhtaj dan Kitab Tafsir Jalalain
Kajian Rutin IKAPDH Setiap 1 Minggu Sekali

 “Bagaikan katak dalam tempurung”. Mungkin pribahasa ini sering kita dengar, tapi sedikit kita yang memahaminya. Sekedar mengingatkan kita kembali bahwa jangan pernah membatasai kemampuan dan pemikiran kita. Jangan selalu merasa cukup dengan apa yang kita miliki sekarang terutama ilmu pengetahuan. Karena ilmu tidak akan pernah habisnya dan tidak terbatas, semakin kita gali, semakin kita temukan, semakin kita serap dan kuras, bukan semakin kering dan habis, tapi justru semakin deras dan mengalir, itulah ilmu pengetahuan.

Orang yang selalu membatasi kemampuan dan pengetahuannya, yakinlah ia tidak akan mempunyai banyak ilmu dan pengalaman. Perasaan untuk membatasi diri itulah sebenarnya dinding penghambat kita, maka itu harus kita hancurkan. Hijrah, pergi, dan perpetualang lah di bumi Allah yang luas ini unutk mencari ilmu pengetahuan “Safir tajid ‘iwadan ‘an man tufariquhu, fansab fa inna ladzidzal ‘ilmi fin nasabi” tuntutlah ilmu, tinggalkan rumahmu, keluargamu, teman-temanmu, kesenangan mu, maka kamu akan mendapatkan ganti atas semua itu dan bersakit-sakitlah dahulu, karena manisnya ilmu akan terasa setelah bersusah payah.

Berbicara tentang ilmu pengetahuan, maka yang tergambar adalah sejuta keutamaan yang terdapat padanya, diantaranya adalah membebaskan manusia dari belenggu kebodohan, mengangkat derajat manusia baik di dunia maupun diakhirat dan lain sebagainya . Tidak hanya sekedar memahami keutamaan ilmu itu sendiri, akan tetapi kita mencoba untuk bagaimana kita menumbuhkan semangat dan kesadaran terhadap diri kita untuk bisa mengejar dan meraih ilmu tersebut.

Kita ini bisa diibaratkan bagaikan permata yang berada di dasar laut, yang belum bernilai tinggi kecuali setelah ia dikeluarkan dan diangkat kedarat, kemudian di bentuk seindah mungkin sehingga memiliki harga jual yang sangat mahal, yang mungkin hanya orang-orang yang ber-duit saja yang bisa memilikinya atau hanya bisa dipakai oleh pembesar-pembesar negara dan kerajaan saja. Begitulah kita, kebanyakan dari kita tidak tau potensi dan kapasitas keilmuan kita, terkadang juga selalu merasa cukup dengan keadaan sekarang sehingga kemampuan yang ia miliki pun menjadi benar-benar terbatas disebabkan karena perasaannya sendiri.

Ada ibrah yang bisa kita ambil dari sebuah permata. Lihat proses perubahan permata di atas, yang awalnya berada di bawah dasar laut, sampai kemudian bernilai tinggi yang diminati banyak orang. Ada proses perpindahan, selayaknya kita juga seperti itu. Jika kita ingin menjadi orang yang bernilai, maka jangan hanya berdiam diri saja, kita harus melakukan perubahan, hijrah dan lakukan perjalanan terutama dalam menuntut ilmu.

Abu Ishak Al-gazzi (Ulama yang berasal dari negeri Gaza) mengingatkan kita, jangan kamu merasa ta’jub kepada orang yang hanya belajar dengan satu guru saja, atau menetap di tempat tinggalnya saja, tidak mau memperluas diri dalam menuntut ilmu, seolah mengajarkan kita untuk berani melangkahkan kaki menuju pusat-pusat keilmuan yang lain, pergilah lepaskan semua kebiasaan-kebiasan yang menjadikan kita kerdil terhadap ilmu pengetahuan dan kemampuan.

Perumpamaan orang yang tidak mau mencari dan memperluas keilmuannya, ibarat orang buta yang tidak membutuhkan cahaya sebagai penerang dirinya. Kita bisa mengetahui bagaimana orang buta sebenarnya, ada atau tidak ada cahaya dan lentera, ia tetap tidak akan bisa melihatnya. sikap manusia yang seperti itu sama dengan manusia buta. Sungguh jika sikap kita benar demikian maka sangat merugilah kita karena tidak bisa melihat indahnya cahaya sedangkan kita masih memiliki mata yang sempurna.

Perumpamaan di atas secara tidak langsung menyindir kita yang masih suka membatas-batasi pengetahuan maupun kemampuan kita. Sungguh dunia Allah ini sangatlah luas, di bumi ini terdapat banyak Negara yang disana terbentang luas berbagai macam ilmu pengetahuan. Itu juga yang pernah dilakukan oleh imam Nakha’I, ia tidakpernah merasa puas dengan apa yang orang katakan, sampai ia benar-benar tau dari mana sumbernya. Dengan kata lain, untuk menghilangkan rasa penasarannya terhadap ilmu, imam Nakha’I selalu melakukan rihlatul ilmi (perjalanan mencari ilmu) sampai ia benar-benar menemukan orang yang menjadi sumber terhadap ilmu tersebut.

Kesungguhan dan ketamakan ulama-ulama terdahulu dalam mencari ilmu telah terbukti dengan lahirnya banyak karya diantara mereka yang masih kita rasakan sampai pada saat sekarang ini. sudah sepantasnya kesungguhan dan kesabaran mereka dalam menuntut ilmu menjadi cerminan bagi kita untuk semakin bersemangat lagi. Karena semua kebaikan yang kita lakukan terhadap ilmu itu bernilai ibadah. Inilah yang pernah disampaikan oleh Mu’adz Radiyallahu ‘Anhu, “Pelajarilah ilmu pengetahuan, karena mempelajarinya adalah sebuah kebaikan, menuntut ilmu itu adalah sebuah ibadah, mengulang-ulang ilmu (pelajaran) itu adalah tasbih, pergi mencari ilmu adalah jihad, mengajarkannya kepada orang lain adalah sedekah.

Imam ‘Ali karamallahu wajhah juga pernah mengatakan “Al-‘ilmu khairun minal mal, al-‘ilmu yahrusuka, wa anta tahrusul mal”. Ilmu itu lebih baik dari pada harta, karena ilmu akan menjagamu, sedangkan harta, engkau yang akan menjaganya. Sungguh luar biasa keutamaan yang kita dapatkan terhadap ilmu, mulai dari usaha mencarinya sampai kita mendapatkannya.

Saya rasa kita sepakat bahwa tidak ada alasan lagi untuk menolak dan berpangku tangan terhadap ilmu, kita butuh usaha untuk meraihnya, jangan belenggu diri kita dengan membatasi pemikiran dan kemampuan kita, serta jangan hanya merasa puas dengan keadaan dan ilmu yang kita miliki sekarang, tapi selalulah merasa haus dan tamak terhadap ilmu dan pengetahuan.



Mudah-mudahan selalu konsisten di jalan Ilmu, Amin


Cairo, 10-03-2012

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More